× Home Terkini Hot Topic Terpopuler Kategori Tag Berita Foto Video

Pelanggaran Kecil dan Ketegasan Kita

Minggu, 14 April 2019
Pelanggaran Kecil dan Ketegasan Kita
Ilustrasi kampanye (Foto: Dok. Istimewa)

Oleh: Sartana, S.Psi., MA

Ini cerita teman dari teman saya. Pada suatu pagi, di sebuah grup Whatsapp yang mestinya steril dari materi-materi kampanye, tiba-tiba ada seorang yang menshare video tentang calon presiden tertentu. Seperti kampanye terselubung lainnya, ia membubuhkan ajakan kepada anggota forum untuk mendiskusikan video tersebut.

Dan sebagai admin grup, dia langsung mengeluarkan si juru kampanye tidak resmi itu. Setelah itu, seperti yang biasa ia alami sebelumnya, akan ada beberapa member grup yang tidak setuju dengan tindakan tersebut. Mereka umumnya akan bilang, mestinya orang-orang seperti itu perlu diberi peringatan sebelum dikeluarkan dari grup.
Tentu, itu saran yang baik. Meskipun sebenarnya, peringatan yang dimaksud, sudah berkali-kali disampaikan secara halus di grup. Namun, ambisi dan obsesi seringkali membuat orang lupa semuanya. Termasuk membutakan seseorang pada nilai, norma, atau konvensi-konvensi sosial yang lainnya.

Dan tentu, dengan merujuk pada pengalaman-pengalaman sebelumnya, si teman itu tidak bergeming. Tetap dengan keputusannya. Tidak memasukan si pelaku ke grup. Karena, dia paham dengan jalan pikiran pelaku. Ia tahu pelaku sudah berhitung tentang konsekuensi dari perilakunya.

Ia berpikir, ketika kampanye di grup, paling resikonya ia akan diberi peringatan, lalu dia minta maaf, dan urusan selesai. Bila admin mengeluarkan dari grup, dia akan mendapat simpati dari anggota lain. Sehingga, dia yang awalnya adalah tersangka, justru akan menjadi "korban", yang akan dikasihani dan mendapat simpati.

Kalau pun tidak dikeluarkan, sebagai kampanye terselubung, ia berharap materi itu menjadi bahan perdebatan di grup. Perdebatannya bisa mulai dari boleh dan tidaknya materi itu dibagikan, soal substansi isi materi, atau soal lain. Dan bila itu terjadi, si tokoh yang didukung akan tetap menjadi inti pusaran perhatian dan pembicaraan.
Artinya, apapun perdebatannya, ia akan teruntungkan. Karena, nama si tokoh akan sering diulang-ulang, sehingga ia potensial untuk mendominasi dominasi pikiran dan kesadaran anggota grup.

Sehingga, dengan itung-itungan yang pasti untung itu, orang-orang yang melihat hidup sekedar persoalan untung dan rugi, atau sekedar calon presidennya menang atau kalah, tidak akan berpikir panjang untuk melakukan tindakan-tindakan yang kurang etis tersebut. Mereka tidak akan sungkan untuk menerabas batas-batas privasi, konvensi, atau etik demi memenangkan sang jagoan. Juga abai terhadap kenyataan bahwa perilakunya tersebut dapat menggangsir keharmonisan dan kerukunan antar anggota grup.

Dan saya kira, akhir-akhir ini, banyak admin atau anggota grup media sosial dihadapkan pada kasus serupa. Pun dalam kehidupan nyata. Banyak forum yang mestinya steril dari "pertarungan politik" disulap menjadi "medan perang" oleh orang-orang dengan tipikal kepribadian yang sama. Mereka "melempar menyulut api permusuhan" seenaknya di tengah masa, dan melenggang pergi tanpa dosa. Dan bila dibiarkan, api itu bisa membesar dan membakar semuanya.

Terkait kasus itu, ada beberapa pembelajaran yang dapat kita jimpit. Bahwa dalam banyak kasus, sebagai masyarakat, kita sering terlalu permisif terhadap aneka pelanggaran terhadap nilai dan norma sosial. Bahkan juga pada aturan atau hukum positif. Kita adalah masyarakat yang terlalu baik, mudah memaklumi, dan memaafkan kesalahan.

Kebiasaan demikian, dari sisi ilmu perilaku, memiliki sejumlah konsekuensi yang tidak kecil. Yang mana, pembiaran terhadap pelanggaran-pelanggaran kecil itu, dalam jangka panjang, akan menjadi biang munculnya pelanggaran-pelanggaran besar.

Karena, secara naluriah, orang mengembangkan perilakunya dengan melakukan coba-coba (trial and eror). Juga berdasarkan penilaian untung dan rugi dari perilakunya itu. Di luar itu, motif manusia juga selalu berkembang. Ketika manusia diberi hati, mereka menginginkan ampela.

Pelanggaran sosial apapun, pada umumnya, ia terbentuk seturut dengan tahapan tersebut. Mereka umumnya akan memulai dengan melanggar hal yang kecil. Bila dari situ ia mendapatkan rasa nyaman, atau tidak ada yang memberi sanksi, ia akan mengulang perilaku yang sama di kemudian hari. Dan karena motif yang terus berkembang, ia akan berusaha untuk mendapat kenyamanan yang besar pada masa-masa selanjutnya.

Di dunia nyata, kasus itu misalnya terlihat pada perilaku pedagang yang berjualan di jalur pejalan kaki atau trotoar. Kita dapat lihat bahwa menjamurnya lapak-lapak kaki lima umumnya dimulai dari perilaku coba-coba. Ketika ada satu orang pedang yang dibiarkan, maka akan banyak pedagang lain yang akan mengikutinya. Dan, pedadang yang pada awalnya hanya menggelar lapak kecil, semakin hari akan memperbesar lapaknya, bahkan bisa sampai membangun rumah di sana. Dan tentu, banyak masyarakat yang terganggu atau terlanggar haknya.

Dalam situasi seperti itu, ketegasan pemimpin dan masyarakat menjadi hal yang mutlak harus ada. Meskipun, karena ketegasan itu banyak orang yang tidak setuju, tidak simpati, bahkwan mencaci maki atau memusuhi. Seperti ketika pada masa awal Ignatius Jonan menata perusahaan kereta api Indonesia.

Seorang pemimpin yang memiliki visi jangka panjang, memahami masalah dan penyelesaiannya, serta mampu meramal arah gerak zaman, tentu tidak akan begitu saja tunduk terhadap tekanan dan kemauan publik. Karena, mereka yakin, suatu hari publik akan mengerti dan menerima hal yang belum mereka pahami hari ini.

Mari kembali ke cerita teman dari teman saya sebelumnya. Dari uraian di atas, kita menjadi tahu bahwa bila perilaku pelanggaran etika di grup itu dibiarkan, si pelaku penyebar video tidak diberi sanksi, maka ia akan mengulangi tindakannya di lain waktu. Dan terus mengulang. Lalu, akan diikuti oleh anggota yang lain. Akhirnya, grup menjadi melenceng dari tujuan awalnya. Relasi sosial yang berlangsung menjadi relasi yang sakit. Orang-orang baku serang. Diskusi menjadi tidak produktif. Persahabatan rusak.

Bila kondisi demikian sudah terjadi, siapa yang benar dan yang salah sulit untuk dicari. Padahal, bila dari awal kita mau dan sudah menyadari : si pelaku penyebar video adalah biang masalahnya, lalu ada perlakuan yang tepat untuknya, maka masalah akan selesai. Karenanya, dalam kasus itu, mengeluarkan si pelaku dari grup merupakan pilihan tepat yang harus diambil, meskipun banyak pihak yang akan menilai keliru dan tidak setuju. (*)


Penulis adalah Dosen Psikologi Sosial Universitas Andalas.


Editor/Sumber: Reza s.


Polling Capres cawapres 2019-2024

[ Ikuti Terus Minangkabaunews Melalui Sosial Media ]



REKOMENDASI
Selengkapnya
TERPOPULER
Selengkapnya
VIDEO
Selengkapnya
FOLLOW US
Redaksi Disclaimer Info Iklan Logo Kontak Pedoman Media Siber