× Home Terkini Hot Topic Terpopuler Kategori Tag Berita Foto Video

Bebas Memilih dengan Nurani

Minggu, 14 April 2019
Bebas Memilih dengan Nurani
Prabowo Subianto dan Joko Widodo (Foto: Dok. Istimewa)

EDITORIAL -- Tinggal tiga hari lagi kita akan melaksanakan pemilihan umum serentak tahun 2019 ini. Kita akan menyalurkan aspirasi kita untuk memilih wakil-wakil kita di DPR-RI, DPD dan dan DPD Provinsi dan Kabupaten/ Kota, serta memilih Presiden dan Wakil Presiden. Mereka yang kita pilih, akan kita percayakan untuk untuk memimpin negara dan membuat berbagai aturan untuk lima tahun ke depan.

Kita sebagai warga negara, tentunya punya penilaian dan pilihan, tentang siapa yang kita pilih. Pilihan kita itu tentu didasarkan atas asumsi, data atau analisis sepanjang yang kita punyai. Asumsi awal dan kemudian ditopang oleh data yang melahirkan pandangan dan keputusan yang kita ambil itu sangatlah terkait dengan lingkungan dan kedekatan informasi yang selama ini kita dapatkan.

Hak pilih itu adalah hak pribadi yang setiap orang bebas menentukan pilihannya. Siapapun yang terbaik menurutnya, ia berhak untuk memilihnya. Tidak ada salahnya, siapa yang akan kita pilih, selama pilihan itu didasarkan atas pertimbangan sadar dan tanpa paksaaan. Adalah sebuah kewajaran pula, seseorang sangat mengidolakan pilihannya, selama ia tidak mencela pilihan teman atau orang lain yang berbeda dengannya.

Pilihan itu menjadi tidak bernilai kebaikan jika didasarkan niat dan keinginan yang tidak baik. Bahkan pilihan itu menjadi menjadi sebuah dosa dan kemaksiatan, bila didasarkan atas sogokan (money politic), atau dengan niat untuk menghalangi tegaknya syiar-syiar agama serta keinginan tumbuh suburnya kemaksiatan. Oleh karena itu, apapun pilihan kita nanti, jadikanlah ia sebuah pilihan bernilai kebaikan, dengan mempertimbangkan kebaikan yang lebih banyak di dalamnya.

Prinsip dalam menentukan pilihan dalam politik sangat banyak kesamaannya dengan menarik kesimpulan atau sintesis sebuah masalah dalam analisis Ilmiah. Kesimpulan akhir harus didasarkan atas data-data yang lengkap dan tanpa asumsi buruk sebelumya. Setiap data yang ada harus dipandang sama tanpa prejudice sebelumnya, sehingga bisa dilakukan anallis yang tepat dan menghasilkan kesimpukan yang tepat pula.

Hal yang sama juga dilakukan dalam menentukan pertimbangan pilihan dalam masalah-masalah agama. Pertimbangan memilih antara dua pilihan diawali dengan mempertimbangakan azas manfaat dan mudharatnya. Menolak mudharat lebih diutamakan dari hanya sekedar mengejar manfaat.

Begitu juga yang dilakukan dalam prinsip etika kedokteran dan peryimbangan dalam meberi terapi pada pasien. Prinsip pertama adalah nonmaleficience atau "First do not harm". Dalam perinsip ini, tidak ada gunanya memilih sebuah terapi yang dikatakan sangat manjur dan bisa menyebuhkan lebih cepat, tapi efek samping atau mudharatnya jauh lebih besar, atau bahkan dengan kematian akibat tindakan pengobatannya sangat tinggi.

Jika mempertimbangkan pilihan antara dua hal yang sama punya data, dalam agama diajarakan dengan metoda Tarjih, yaitu menentukan pilihan berdasarkan dalil atau data yang lebih kuat. Dalam menentukan pilihan dalam politik, tentunya setiap orang bisa melakukan dengan pendekatan yang sama. Melihat semua data tentang kandidat-kandidat yang akan dililih, rekam jejak, prestasi, dan orang-orang di sekitarnya. Sehingga dapat dianalisis prediksi kemungkinan apa yang akan bisa diperbuatnya tatkala ia memegang amanah.

Sebagai contoh jika kita dihadapkan atas empat karakter pilihan, ada Abdul Uzza (Abu Lahab), Abu Thalib, Abbas dan Hamzah. Semuanya itu secara nasab adalah saudara Abdullah atau paman Nabi S.A.W. Atau dengan konteks kita saat ini, pilihan kita itu semua adalah berasal dari daerah kita juga. Maka kita tentu harus mempertimbangkan manfaat yang lebih besar yang bisa kita dapatkan.

Jika kita dihadapkan kepada Abu Lahab vs Abu Thalib, tentu kita akan memilih Abu Thalib yang jelas keberpihakan dan sumbangsihnya terhadap perjuangan Rasulullah (Islam). Pilihan bukan hanya sekedar pernah berjasa masa lalu atau nasab atau daerah asal yang dekat.
Jika hanya mempertimbangkan ini, Abu Lahab lebih dahulu membanggakan Muhammad S.AW saat kelahirannya. Daialah pamannya yang mengumumkan dengan gembira kepada Kaum Quraisy atas kelahiran keponakannya itu. Namun, saat kebenaran telah didakwahkan, dialah diantara tokoh yang menolak, memusuhi dan menghalang-halangi dakwah Rasulullah S.A.W dengan keras.

Namun tatkala kita dihadapkan kepada Abu Thalib dan Hamzah R.A, maka kita akan pilih Hamzah. Meskipun ia tidak kaya dan banyak menyumbangkan harta untuk dakwah, tapi keberpihakannnya dan perjuangannya jelas.

Sebaliknya, meski Abu Thalib selalu membela dakwah Islam, ia tetap mentolerir kemusyrikan dan kemaksiatan. Maka yakinlah, jika karakter Abu Thalib yang terpilih, boleh jadi ia tetap membela kebenaran, tapi ia akan mendukung pula kemaksyiatan dan kemusyrikan.

Tatkala kita dihadapkan apada pilihan antara karakter Hamzah dan Abbas, dan kitab oleh hanya memilih satu orang, maka langkah pertama kita tentu meminta petunjuk-Nya. Dengan Taufik-Nya itu kita pertimbangkan potensi dan karakter apa yang kita butuhkah. Tatkala yang kita butuhkan adalah orang yang kuat terhadap gangguan dari luar, atau untuk mempertahankan kesatuan dan integritas bangsa, maka karakter Hamzahlah pilihannya. Namun, jika kondisi kita membutuhkan pengayom dan penasehat dengan ilmunya, karakter Abbas yang kita butuhkan. (*)


Penulis adalah Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Andalas


Editor/Sumber: Reza s.




[ Ikuti Terus Minangkabaunews Melalui Sosial Media ]



REKOMENDASI
Selengkapnya
TERPOPULER
Selengkapnya
VIDEO
Selengkapnya
FOLLOW US
Redaksi Disclaimer Info Iklan Logo Kontak Pedoman Media Siber