× Home Terkini Hot Topic Terpopuler Kategori Tag Berita Foto Video

Sistematis Berfikir Masa Pandemi Covid-19

Kamis, 14 Mei 2020
Sistematis Berfikir Masa Pandemi Covid-19
Rino Chandra, Redaktur Eksekutif Minangkabaunews.com

Eka putra, SE for Tanah Datar 1

Oleh: Rino Chandra
Redaktur Eksekutif Minangkabaunews.com

Apa hendak dikata, awal tahun 2020 penduduk dunia dikejutkan dengan Virus Corona atau biasa disebut Covid-19. Manusia dipaksa menghadapi musuh yang tak nampak wujud bahkan bayangannya. Menjalar seperti ilalang kering terbakar diperbukitan, membunuh dan menyatu dalam diri untuk terus mengakarkan sakit hingga mematikan.

Menakutkan memang, Virus Corona namanya. Seperti Jailangkung "datang tak jemput, pulang tak diantar". Tak jelas asalnya darimana. Tidak saja merenggut nyawa manusia, jenis virus ini juga mempermainkan nyawa sosial, ekonomi dan politik secara global.

Secara Indonesia, beberapa wilayah provinsi, kota dan kabupaten terus berusaha memaksimalkan percepatan penanggulan Covid -19 agar penyebaran virus ini tidak memiliki potensi ekspansi tanpa batas. Pemerintah pusat hingga daerah berjibaku menghadapi persoalan ini. Dilingkungan masyarakat pun tidak sedikit akses jalan komplek perumahan diblokade dengan mengunakan meja, kursi bambu dan kayu gelondongan. Begitu juga batas kota dan provinsi didirikan pos atau chekpoint covid 19 guna mendeteksi keluar masuk orang dari zona terpapar.




Pada researc yang dilakukan oleh beberapa lembaga selama pandemi. Tingkat kematian akibat virus corona di Indonesia sangat tinggi, mortality rate di Indonesia mencapai 8-9%, jauh diatas rata-rata global. Rumah Sakit rujukan disiapkan, karena tidak semua rumah sakit memiliki fasilitas medis mumpuni untuk penyakit satu ini. Laboratorium Dioagnostik dan Riset Terpadu Penyakit Infeksi berkerja maksimal untuk memastikan sampel Swab dari para pasien. Tentu tujuannya adalah memberi status kepada pasien tersebut positif atau negatif. Selain itu sebagai inventaris data masyarakat yang terkonfirmasi positif. Pemerintah dalam hal ini meminta, melakukan tracking kepada seratus orang dari satu orang terkonfirmasi positif Covid -19. Begitu perintahnya.

Dalam sosial bermasyarakat, tidak jarang juga terlihat visual mengharukan, dari vidio yang dibagikan ke sosial media. Masyarakat memberikan support atau semangat kepada sanak saudara maupun tetangga yang terkonfirmasi positif covid-19 maupun yang melakukan isolasi mandiri. Juga, rasa pilu ketika masyarakat pobia corona terhadap orang meninggal. Tidak semua orang berani dalam penyelenggaraan jenazah dan mensholatkan.

Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) merupakan keputusan pemerintah untuk memutus mata rantai penyebaran Covid -19. Namun prilaku masyarakat sebagian masih tidak mengindahkan himbauan itu. Seperti ada bias kognitif, kesalahan sistematis dalam berfikir yang mempengaruhi keputusan yang dibuat seseorang. Salah menafsirkan informasi sekitar, sehingga terjadi ketidak seriusan mengikuti aturan PSBB dan dalam menghadapi wabah saat ini. Banyak uraian soal bias kognitif, karena ini menyangkut prilaku manusia, termasuk dalam menghadapi Covid -19.

Covid -19 tidak saja menjadi virus mematikan, namun juga menyebar virus ke Sosial Media (Sosmed). Perdebatan terjadi, contoh nya group WhatApps. Masing-masing memiliki pandangan soal virus Corona dan penanganannya. Bumbu politik jelang pilkada yang entah kapan berlangsung merubah riak menjadi ombak dalam debat group WhatApps. Masing-masing kelompok mempertaruhkan dan mempertahankan reputasinya, padahal virus Corona tidak bisa diselesaikan dengan debat, emosi dan perasaan.




Pemerintah dan kelompok menengah melakukan aksi, namun masyarakat masih dalam kondisi minim edukasi. Baliho dan spanduk bernarasi himbauan PSBB dan bahaya Covid -19 tertancap di zona ruang publik. Fakta dilapangan, narasi himbauan menjadi penonton ketika masyarakat berkumpul di beberapa kantor pos untuk menerima Bantuan Sosial (Bansos) dari pemerintah.

Mobilitas masyarakat memerlukan waktu untuk pulih setelah pandemi virus Corona. Sirkulasi bisnis semua sektor yang ada di Indonesia terdampak, termasuk beberapa pembangunan infrastruktur dari proyek pemerintah untuk masyarakat. Semuanya tersedot oleh Corona. Biarkan pemerintah bekerja dengan profesional dengan proporsinya. Agar Indonesia pulih dan masyarakat kembali bisa saling berjabat tangan dalam silaturahmi.

Menurut penulis, merindukan meja dimana sebelum pandemi ini terjadi, ada kopi, rokok dan obrolan bersama, tanpa masker dan jarak yang ditentukan. Kondisi ini sama-sama kita rasakan. Semoga cepat berlalu, dan kita bisa saling bertemu. (***)

Payakumbuh 14 Mei 2020

Loading...
Editor/Sumber: Romeo

facebook twitter whatsapp linkedin pinteret email
REKOMENDASI
Selengkapnya
FOLLOW US
Redaksi Disclaimer Karir Info Iklan Logo Kontak Pedoman Media Siber