× Home Terkini Hot Topic Terpopuler Kategori Tag Berita Foto Video

Generasi Harapan Bangsa di Persimpangan Jalan

Senin, 03 Agustus 2020
Generasi Harapan Bangsa di Persimpangan Jalan
Nelly, M.Pd, Aktivis Peduli Generasi, Pemerhati Masalah Keumatan

Oleh Nelly, M.Pd, Aktivis Peduli Generasi, Pemerhati Masalah Keumatan

Indonesia kini sudah memasuki usia kemerdekaan yang sudah menua ke-75 tahun, di mana untuk mengisi kemerdekaan peran para pemuda sangat besar. Sebab di tangan para pemuda perubahan bangsa dapat diraih menuju bangsa yang maju dan bermartabat. Generasi muda merupakan penerus perjuangan penentu sebuah peradaban bangsa, bahkan bisa dikatakan sechangeagen of change, penerus tongkat estafet dalam mengisi pembangunan.

Pada negara manapun pemuda adalah penerus pembangunan, karenanya kalau generasi mudanya lemah, tidak memiliki etika, moral dan akhlaknya rusak maka dipastikan nasib sebuah negara sangat terancam. Di era globalisasi seperti saat ini semua serba bebas, kehidupan serba liberal, hidonis, dan ini bisa dapat disaksikan di negeri Indonesia tercinta yang dikenal sangat menjunjung adat ketimurannya, menjaga nilai moral serta menjaga kesopanan kini sepertinya identitas itu kian terkikis.

Betapa tidak fenomena kondisi generasi muda begitu memprihatinkan. Faktanya sangat terpampang nyata bagaimana para pemuda begitu banyak terpapar kasus free sex hingga berujung hamil di luar nikah, aborsi bahkan mutilasi. Seperti dilansir pada laman pemberitaan tirto.id, Pengadilan Agama Jepara, Jawa Tengah, mencatat ada 240 permohonan dispensasi nikah lantaran belum genap 19 tahun sesuai aturan baru. Tercatat hamil terlebih dahulu dengan jumlah berkisar 50-an persen, (26/7/2020) lalu.

Pada tahun 2019 peristiwa serupa yang menghebohkan publik adanya hamil massal yang dialami 12 siswi SMP di satu sekolah di Lampung. Temuan di salah satu daerah di Bumi Ruwa Jurai tersebut, menjadi perhatian serius, Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Lampung. Menurut direktur PKBI Lampung, Dwi Hafsah Handayani, 12 siswi SMP di satu sekolah di Lampung diketahui hamil tersebut, terdiri dari siswa di kelas VII, VIII, dan IX.

Sangat miris, beginilah kondisi generasi muda negeri ini begitu memprihatinkan, dan ini hanya segelintir kasus kenakalan remaja yang terjadi. Pada kasus lain fenomena telah menurunnya moral dan akhlaq generasi muda juga nampak pada maraknya kasus narkoba, LGBT, tawuran antar pelajar, bunuh diri, bahkan harus menjual diri sebagai PSK juga marak terjadi.

Padahal sejatinya pemuda merupakan tongkat estafet dalam kebangkitan peradaban suatu bangsa. Menilik potret buram ini jelas terlihat bahwa permasalahan degradasi moral dan akhlaq yang saat ini mencengkram kalangan muda mudi kita adalah problem yang sistemik. Banyak faktor yang mengakibatkan kenakalan dikalangan pemuda mulai dari pendidikan agama dan pengawasan dari keluarga yang sudah mulai hilang, masyarakat yang individualisme dan cuek terhadap masalah ini. Serta negara yang dalam hal ini menerapkan sistem pendidikan yang sekuler memberikan dampak yang luar biasa dalam kepribadian generasi bangsa yang jauh dari agama.

Di sisi yang lain negara memberikan kebebasan kepada warganya dalam berprilaku dan tidak menerapkan sistem sanksi hukum terhadap pelaku-pelaku kenakalan remaja dengan tegas dan memberi efek jera. Sistem kehidupan sekuler yang serba liberal seperti yang diadopsi negeri inilah, yang memberikan kebebasan berperilaku dan begitu diagung-agungkan.

Akibat penerapan sistem kapitalis sekuler inilah yang mengakibatkan negara pun kehilangan nyali mengatur warga negaranya karena momok demokrasi yang mengharuskan untuk mengakomodir semua kepentingan dan kelompok, termasuk kelompok para kapitalis dan liberalis. Akibatnya, benar dan salah menjadi kabur, halal-haram tak dapat jelas dibedakan. Sistem seperti ini pun telah menyeret "orang baik" untuk berbuat maksiat dan pelaku maksiat semakin banyak tanpa terkendali.

Apalagi perilaku bebas ini legal secara institusi negara dengan di undang-undangankannya kebebasan berperilaku. Ini justru akan semakin membuat masalah remaja akan sulit diatasi, termasuk free sex dan hamil diluar nikah yang menjadi tren. Ditambah dengan adanya UU terbaru yang melarang menikah muda/dini akan semakin menyuburkan sex bebas. Satu sisi para remaja dibiarkan hidup bebas, sisi lain mereka dilarang untuk segera menikah guna menjauhkan diri dari perbuatan tercela.

Kehidupan hedonis serba liberal ditopang kuat oleh sistem kapitalis di mana para kapitalis bebas memberikan tayangan media sosial yang tanpa filter, tontonan televisi jauh dari pendidikan, inilah yang semakin menjauhkan generasi dari jati diri sebagai generasi penerus peradaban. Sejatinya problem pada generasi muda ini penyelesaiannya diperlukan solusi yang komprehensif dan menyeluruh hingga keakarnya.

Jika pada sistem kapitalis sekuler hanya melakukan solusi tambal sulam yang berujung pada menambah kerusakan pada remaja semakin marak. Di sinilah diperlukan sebuah paradigma perubahan sistem aturan yang mampu memberantas kenakalan remaja secara tuntas. Kondisi sudah level darurat, meski segera dicari solusi alternatif.

Sistem Islam yang berasal dari sang pencipta manusia dan alam semesta yaitu Allah SWT hadir memberikan solusi tentang masalah ini. Potret buram para pemuda ini sebenarnya dapat dituntaskan dengan memperbaiki sistem kehidupan yang mempengaruhi pemahaman dan perilaku mereka.

Untuk itu dibutuhkan peran dari berbagai pihak yaitu baik itu sekolah, keluarga, masyarakat dan negara. Keseluruhannya bertanggung jawab dalam membentuk kepribadian yang baik pada generasi muda, kepribadian yang dibangun di atas iman dan takwa. Semuanya harus bersinergis untuk mewujudkan lingkungan yang kondusif bagi perkembangan generasi muda.

Pertama, Keluarga merupakan institusi pertama dan utama yang melakukan pendidikan dan pembinaan terhadap anak (generasi). Di sanalah pertama kali dasar-dasar keislaman ditanamkan. Anak dibimbing orangtuanya bagaimana ia mengenal Penciptanya agar kelak ia hanya mengabdi kepada Sang Pencipta, Allah SWT. Rasulullah saw. pernah bersabda: Setiap bayi dilahirkan dalam keadaan suci (fitrah-islami). Ayah dan ibunyalah kelak yang menjadikan dirinya Yahudi, Nasrani atau Majusi (penyembah api dan berhala) (HR al-Bukhari, Muslim, Malik, Ahmad, at-Tirmidzi, Abu Dawud dan an-Nasai).

Orangtua wajib mendidik anak-anaknya tentang perilaku dan budi pekerti yang benar sesuai dengan ajaran Islam. Bagaimana anak diajarkan untuk memilih kalimat-kalimat yang baik, sikap sopan-santun, kasih-sayang terhadap saudara dan orang lain. Mereka diajarkan untuk memilih cara yang benar ketika memenuhi kebutuhan hidup dan memilih barang halal yang akan mereka gunakan. Dengan begitu, kelak terbentuk pribadi anak yang shalih dan terikat dengan aturan Islam.

Kedua, Masyarakat, yang menjadi lingkungan remaja menjalani aktivitas sosialnya, mempunyai peran yang besar juga dalam mempengaruhi baik-buruknya proses pendidikan, karena remaja merupakan satu bagian yang tidak terpisahkan dari masyarakat. Interaksi dalam lingkungan ini sangat diperlukan dan berpengaruh dalam pertumbuhan dan perkembangan remaja.

Masyarakat yang terdiri dari sekumpulan orang yang mempunyai pemikiran dan perasaan yang sama, serta interaksi mereka diatur dengan aturan yang sama, tatkala masing-masing memandang betapa pentingnya menjaga suasana kondusif bagi pertumbuhan dan perkembangan generasi muda, maka semua orang akan sepakat memandang mana perkara-perkara yang akan membawa pengaruh positif dan mana yang membawa pengaruh negatif bagi pendidikan generasi.

Perkara yang akan membentuk pengaruh negatif pada remaja tentu akan dicegah bersama. Jika ada sekelompok remaja terbiasa nongkrong dengan kegiatan yang tidak karuan, masyarakat setempat seharusnya bertindak membersihkan lingkungan dengan mengajak kelompok remaja tersebut mengalihkan kegiatan dengan hal positif yang lebih bermanfaat. Di sinilah peran penting masyarakat sebagai kontrol sosial.

Ketiga, peran paling penting dan strategis dalam membentuk kepribadian generasi ada pada negara melalui pemberlakuan sistem pendidikan yang berasaskan aqidah Islam dan penerapan hukum yang memberikn efek jera bagi pelaku kenakalan dikalangan remaja baik pelaku zina (di rajam sampai mati bagi yang sudah pernah menikah, di cambuk 100x bagi yang belum pernah menikah). Dalam kasus narkoba, Islam dengan tegas mengharamkan narkoba.

Orang yang mengkonsumsi narkoba berarti telah melakukan kemaksiatan atau tindakan kriminal. Ia bisa dijatuhi sanksi takzir yang jenis dan kadarnya diserahkan kepada Khalifah atau qadhi. Bagi pengedar narkoba, sanksi takzir-nya lebih berat, bahkan bisa sampai hukuman mati dengan memperhatikan tingkat dan dampak kejahatan itu bagi masyarakat.

Lebih dari itu, negara juga wajib mengontrol dan menindak tegas hal-hal yang bisa merusak generasi, terutama media televisi dan situs internet yang memberi pengaruh buruk dalam pendidikan dan pembinaan anak. Peran negara yang seperti ini tentu tidak akan terwujud dalam tatanan sistem sekuler kapitalis seperti saat ini.

Hanya negara yang menerapkan Islam secara kaffah-lah yang mampu melaksanakan peran strategis ini. Oleh karena itu, berharap menghapus potret buram remaja dalam tatanan sistem kapitalis saat ini hanyalah mimpi di siang bolong. Karena itu, sudah saatnya mencetak potret cemerlang kaum milenial abad 21 dan generasi emas peradaban dengan tatanan terbaik dari Sang Maha Pencipta, Allah SWT dengan menerapkan sistem Islam secara Kaaffah dalam kehidupan bernegara. Wallahualam bis shawab. (***)

Editor/Sumber: Rahmat Ilahi (Kang Rie)

facebook twitter whatsapp linkedin pinteret email
REKOMENDASI
Selengkapnya

FOLLOW US
Redaksi Disclaimer Karir Info Iklan Logo Kontak Pedoman Media Siber