× Home Terkini Hot Topic Terpopuler Kategori Tag Berita Foto Video

Terungkap, 3 Faktor Utama Ini Bisa Picu Perang Mahadahsyat Amerika vs China di Natuna Utara

Selasa, 04 Agustus 2020
Terungkap, 3 Faktor Utama Ini Bisa Picu Perang Mahadahsyat Amerika vs China di Natuna Utara
USS Nimitz (Foto: Dok. Istimewa)

INTERNASIONAL - Sebuah fakta diungkap oleh lembaga Inisiatif Penyelidikan Situasi Strategis Laut China Selatan (SCSPI), yang berbasis di China. Dalam sejumlah data yang dirangkum, terkuak bukti-bukti aksi ilegal militer Amerika Serikat (AS) yang kerap menerobos wilayah China.




SCSPI membeberkan data yang membuktikan bahwa militer Amerika sudah melakukan pengintaian terhadap aktivitas Tentara Pembebasan Rakyat China (PLA) lebih dari 10 tahun. Tercatat, militer Amerika sudah ribuan kali melakukan aksi mata-mata lewat udara dengan mengerahkan pesawat-pesawat intai.

Tak hanya itu, dalam kurun waktu tiga bulan terakhir aksi pengintaian militer Amerika semakin menigkat. Menurut laporan Global Times, Selasa (8/4/2020), militer Amerika sudah melakukan 151 kali aksi mata-mata lewat udara, terhitung sejak Mei 2020.

Ternyata, SCSPI juga mengungkap data pada Juli 2020 lalu pesawat intai militer Amerika menerobos wilayah China. Pengintaian ini bahkan dilakukan saat Tentara Pembebasan Rakyat China tengah menggelar latihan tempur mulai 1-5 Juli 2020.

Lihat juga: Gawat, China Ancam Perang Mahadahsyat Kepada Amerika Jika Banyak Tingkah di Laut Natuna Utara

SCSPI menyebut, pesawat intai Amerika itu memasuki wilayah China secara ilegal dengan jarak hanya 40 mil, atau 64,4 kilometer dari pangkalan militer Amerika. Jarak ini adalah yang terdekat dalam operasi pengintaian militer Amerika di wilayah China.

Sejumlah aksi Amerika ini jelas mengkhawatirkan. Dalam kacamata Hu Bo, Direktur SCSPI, operasi mata-mata militer Amerika ini semakin meningkatkan risko gesekan yang bisa berujung konflik horizontal alias perang. Menurut Hu, ada tiga risiko yang bisa menjadi pemicu perang antara Amerika dan China.

Lihat juga: Bakal Perang, Ribuan Aksi Mata-mata oleh Amerika di Natuna Utara Ketahuan Militer China

Yang pertama, Hu menyebut kapal-kapal perang sering masuk tanpa izin ke perairan China dalam jarak 12 mil (19,3 kilometer) dari Kepulauan Nansha, atau lebih dikenal sebagai Kepulauan Spratly. Armada tempur laut Amerika menganggap bahwa Kepulauan Spratly tidak termasuk wilayah China.

Dengan keyakinan itu, militer Amerika merasa jika aksinya tidak melanggar hukum internasional. Hingga saat ini, wilayah Kepulauan Spratly disengketakan oleh China dengan lima negara lainnya yakni, Malaysia, Filipina, Vietnam, dan Taiwan.

Poin kedua juga masih dari risiko pengintaian militer Amerika yang terlalu dekat. Hu sedikit berkaca, saat pesawat intai Angkatan Laut Amerika (US Navy) EP-3E ARIES II bertabrakan dengan jet tempur Angkatan Udara Tentara Pembebasan Rakyat China (PLAAF) J-8II. Jika sampai peristiwa serupa terjadi, bukan tak mungkin perang antar kedua negara bakal meletus.

Lihat juga: Gawat, Amerika Bikin Rudal Baru Pembunuh Kapal China dengan Sekali Tembak di Natuna Utara

Yang ketiga, dengan meningkatkatnya ketegangan baik militer China maupun Amerika sama-sama akan sering menggelar latihan tempur. Pengintaian dan pemantauan tentu akan jadi materi wajib yang masuk dalam timeline latihan tempur. Akan tetapi jika tidak saling menjaga jarak maka gesekan pun tidak akan terhindarkan.

Kembali berkaca pada sebuah insiden yang terjadi pada 2013, saat armada tempur Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat China (PLAN) yang diperkuat kapal induk Liaoning, melangsungkan latihan di Laut China Selatan.

Secara tiba-tiba, kapal penjelajah Angkatan Laut Amerika, USS Copwens, melakukan manuver berbahaya dan memotong jalur armada laut China. Tak ada jalan lain, kapal-kapal perang China memaksa USS Copwens untuk berhenti dengan ancaman dengan hanya berjarak 50 meter. (vv)

Editor/Sumber: Romeo/viva

facebook twitter whatsapp linkedin pinteret email
polling cagub sumbar
REKOMENDASI
Selengkapnya

FOLLOW US
Redaksi Disclaimer Karir Info Iklan Logo Kontak Pedoman Media Siber