× Home Terkini Hot Topic Terpopuler Kategori Tag Berita Foto Video

Menyikapi Aliran Keagamaan Menyimpang di Masyarakat

Rabu, 05 Agustus 2020
Menyikapi Aliran Keagamaan Menyimpang di Masyarakat
Angga Minanda, S.IP

Oleh: Angga Minanda, S.IP

Akhir bulan Juli kemarin, masyarakat Indonesia (khususnya di daerah Sumatera Barat) sempat dihebohkan oleh berita mengenai temuan adanya kelompok aliran keagamaan menyimpang. Kelompok ini kemudian dikenal dengan nama "Ibrahim Tauhid", namun ada juga yang menyebut dengan "Tauhid Ibrahim" dan "Agama Muslim". Sangat disayangkan bahwa munculnya berita terkait kelompok "Ibrahim Tauhid" ini mengusik perhatian umat Islam yang akan melaksanakan salah satu ibadah mulianya yaitu ibadah haji dan ibadah qurban, yang mana kedua ibadah ini merupakan ritual napak tilas dari pelajaran yang diberikan oleh Nabi Ibrahim alaihissalam.

Di tahun 2020 ini perayaan Hari Raya Idul Adha dilaksanakan pada tanggal 31 Juli, sesuai dengan hasil sidang istbat Kementerian Agama Republik Indonesia yang langsung disampaikan oleh Menteri Agama RI, Fachrul Razi di Kantor Kemenag Thamrin.




Kelompok "Ibrahim Tauhid" ini berada di Nagari Koto Sani dan Nagari Sumani, Kecamatan X Koto Singkarak, Kabupaten Solok. Jumlahnya sekitar 20 orang. Mereka mulai menganut kepercayaan ini empat tahun yang lalu dari orang yang diutus oleh guru mereka di Kota Padang dan Jawa Tengah. Bagi mereka sholat lima waktu bukan sebuah kewajiban dan bukan tiang agama. Sehingga kelompok ini menganggap sholat tidak perlu dilaksanakan karena aliran ini menganggap Nabi Muhammad shollallahu alaihi wassalam bukan nabi dan rasul, namun mereka hanya meyakini tauhid yang dibawa Nabi Ibrahim. Tidak wajib berpuasa Ramadhan. Puasa bisa dilaksanakan tiap hari karena inti puasa ialah mengendalikan hawa nafsu. Tidak ada kewajiban melakukan ibadah haji karena bisa diwakilkan oleh guru saja. Tidak mengenal Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha. Berkurban pun tidak ditentukan waktu dan jumlahnya.

Pemahaman ini tentu saja dapat menimbulkan beragam reaksi di masyarakat, terutama di Kabupaten Solok. Sehingga Bupati Solok, Gusmal, mengingatkan pejabat terkait yang paham tentang agama Islam untuk bersinergi dalam mencegah meluasnya ajaran ini ditengah masyarakat. Jika ajaran ini meluas ditengah masyarakat dikhawatirkan akan menimbulkan keresahan dan berujung pada tindakan yang tidak diinginkan (sumber: minangkabaunews). Pada tanggal 30 Juli 2020, lima anggota dari kelompok ini melakukan prosesi syahadat setelah diberikan pemahaman terhadap ajaran Islam oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Solok bersinergi dengan Badan Koordinasi Pengawas Aliran Keagamaan dan Kepercayaan Masyarakat (Bakorpakem) Kabupaten Solok. Di dalam Bakorpakem ini terdapat unsur POLRES, KODIM, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), MUI dan Kemenag.

Berbagai Aliran Menyimpang

Kasus aliran menyimpang di Indonesia bisa dikatakan cukup banyak. Berdasarkan data yang penulis peroleh dari berbagai sumber, aliran menyimpang ini memiliki tokoh patron yang diteladani, banyak pengikut, beragam ritual keagamaan, dan ajaran yang tidak sesuai dengan dalil-dalil syari yang bersumber dari Al-Quran dan Assunnah. Berikut sepuluh kriteria aliran sesat yang ditetapkan Majelis Ulama Indonesia yaitu: 1. Mengingkari Rukun Iman dan Rukun Islam; 2. Meyakini dan/atau mengikuti akidah yang tidak sesuai dalil syari (Al-Quran dan Assunnah); 3. Meyakini turunnya wahyu setelah Al-Quran; 4. Mengingkari otensitas dan/atau kebenaran isi Al-Quran; 5. Melakukan penafsiran Al-Quran yang tidak berdasarkan kaidah tafsir; 6. Mengingkari kedudukan hadist Nabi sebagai sumber ajaran Islam; 7. Melecehkan dan/atau merendahkan para nabi dan rasul; 8. Mengingkari Nabi Muhammad Sholallahu alaihi wassalam sebagai nabi dan rasul terakhir; 9. Mengubah pokok-pokok ibadah yang telah ditetapkan syariah; 10. Mengkafirkan sesama Muslim tanpa dalil syari.

Dari beberapa informasi yang penulis peroleh, berikut penulis tampilkan beberapa aliran keagamaan menyimpang yang ada di Indonesia:

1. Sekte "Kerajaan Tuhan" atau "Salamullah" yang dipimpin oleh Lia Aminuddin (Lia Eden). Kelompok ini beberapa kali berurusan dengan pihak kepolisian karena dugaan melanggar pasal 156 a KUHP tentang penistaan agama. Lia Eden mengaku menerima wahyu dari malaikat Jibril, ia mengklaim menggabungkan tiga ajaran agama Samawi. Ia menyatakan bahwa akan ada kiamat pada akhir Mei 2015, ia dan kelompoknya akan diselamatkan oleh sebuah UFO yang akan membawa mereka ke surga.




2. Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) pimpinan Ahmad Musadeq. Kelompok ini mengklaim memiliki 50 ribu anggota tersebar di 6 provinsi yaitu Jakarta, Banten, Jabar, Jateng, DIY, dan Kalimantan Barat. Gafatar mempermudah ritual agama, antara lain tidak perlu menunaikan salat lima waktu dan puasa. Selain itu, Gafatar meyakini Nabi Muhammad bukan nabi akhir zaman, sebab ada utusan terakhir, yakni Ahmad Musadeq sendiri. Ahmad Musadeq ditangkap oleh Bareskrim Mabes Polri atas dugaan penistaan agama dan perbuatan makar pada bulan Mei 2016.

3. Ajaran Kerajaan Ubur-Ubur yang mayoritas pengikutnya berasal dari Jawa Tengah dan Jawa Timur. Aktifitas kelompok ini adalah melaksanakan ritual zikir pada malam Jumat kemudian diakhiri dengan nyayian dan tari-tarian. Mereka tidak pernah shalat berjamaah di masjid ataupun mushalla. Pemimpin kelompok ini mengatakan bahwa Kabah bukan kiblat umat Muslim, tetapi tempat pemujaan berhala. Melalui video yang dibagikan di media sosial ia mengatakan bahwa Nabi Muhammad adalah seorang perempuan, atas hal ini ia dijatuhi hukuman karena melanggar UU ITE pada tahun 2019.

4. Organisasi Lembaga Pelaksana Amanah Adat dan Pancasila (LPAAP) di Tana Toraja dipimpin oleh Paruru Daeng Tau, warga Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan yang kemudian ditahan polisi pada Januari 2020. Pengikutnya sekitar 50 orang meyakini bahwa Nabi Muhammad bukanlah nabi atau rasul yang terakhir, melainkan pimpinan LPAAP itu sendiri.

5. Awal Desember 2019, seorang warga Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), Kalimantan Selatan (Kalsel) menyebarkan ajaran sesat. Ia telah diamankan pihak kepolisian. Polisi juga menemukan sebuah kitab yang diberi nama "Al Furqon" yang disebut-sebut berisi wahyu yang diturunkan oleh malaikat Jibril.

Beberapa aliran keagamaan menyimpang tadi hanya sebagian kecil dari keseluruhan informasi yang penulis peroleh. Kelompok-kelompok semacam ini terus bermunculan dari waktu ke waktu dan diberbagai daerah.

Menyikapi Aliran Menyimpang

Sejauh ini terdapat beragam sikap masyarakat kita dalam merespon munculnya aliran keagamaan yang menyimpang di Indonesia. Secara garis besar, penulis membaginya dalam empat kelompok yaitu : (1) menggunakan tindakan kekerasan dalam bertindak (anarkis) baik terencana maupun kondisional (tersulut emosi); (2) kelompok permisif yang mendukung atas nama kebebasan berfikir; (3) tidak peduli sama sekali (acuh tak acuh); (4) melaporkan ke perangkat daerah dan lembaga yang memiliki kewenangan untuk mengatasi permasalahan tersebut. Kelompok pertama berdasar kepada kecintaan agama yang bersifat emosional, namun kurang dalam pengendalian diri sehingga sering terbawa suasana. Kelompok kedua terlalu memudahkan perkara agama sehingga menganggap semuanya boleh-boleh saja. Kelompok ketiga adalah mereka-mereka yang terlalu sibuk dengan pekerjaan, hobi, komunitas, organisasi, partai politik, sosial media dan lain sebagainya. Kelompok keempat didasarkan pada pengendalian diri, kesadaran dan kedewasaan dalam bertindak. Agama Islam adalah agama rahmatan lil alamin, sehingga dalam menghadapi segala permasalahan harus tetap menjaga nilai-nilai kebaikan yang konstruktif demi kemashlahatan. Penerapan amar maruf nahi mungkar harus dilakukan dengan hikmah dan kebijaksanaan serta nir kekerasan (tanpa kekerasan).




Kita tentu pernah mendengar kisah tentang Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq yang tegas menumpas para nabi palsu, selepas wafatnya Rasulullah Sholallahu alaihi wassalam. Salah satu nabi palsu tersebut adalah Musailamah Al-Khazzab. Sebelum ia diperangi, terlebih dahulu diutus para sahabat untuk menasihatinya. Setelah dinasihati dan mereka tetap dengan sikapnya, maka umat Islam di bawah kepemimpinan Khalifah Abu Bakar memeranginya. Para shahabat tidak bertindak sendiri-sendiri. Hal ini berbeda dengan sebagian umat Islam saat ini yang malah bertindak sendiri-sendiri dalam sebuah organisasi masyarakat tertentu dan melakukan tindakan destruktif. Selain itu yang berhak menentukan putusan dalam permasalahan aliran menyimpang ini adalah lembaga yang sah dan berwenang.

Dalam sholat, kita senantiasa meminta kepada Allah subhanahu wa taala agar ditunjukkan kepada jalan yang lurus bukan jalannya orang-orang yang dimurkai Allah dan bukan pula jalan orang yang sesat. Doa ini senantiasa kita pinta kepada Allah. Selain itu ada beberapa upaya yang dapat kita lakukan agar selamat dari kesesatan dalam beragama, seperti berikut ini: (1) Pendidikan agama yang baik dan benar sesuai dengan Al-Quran dan Assunnah; (2) Jika menemukan permasalahan atau pertanyaan mengenai agama maka tanyakan kepada alim ulama; (3) Menjaga diri dan keluarga dari pemikiran dan pemahaman yang menyimpang; (4) Terbuka terhadap masukan dan perbedaan pendapat para ulama (ikhtilaf). Kemudian daripada itu, peran pemerintah dan lembaga yang kompeten sangat diharapkan mampu melakukan deteksi dini kemunculan aliran menyimpang dan segera meluruskannya. Mencegah jauh lebih baik daripada mengobati. Dalam istilah tokoh Islam Indonesia, Muhammad Natsir, jika mau memadamkan api, maka padamkanlah api sewaktu kecil. Jangan nunggu api semakin membesar. (Adian Husaini, 2014). Kita pun tidak ingin pemerintah sekedar menjadi pemadam kebakaran. Harapan kita bersama adalah aliran keagamaan menyimpang tadi tidak muncul di masa yang akan datang. (*)

/* Penulis adalah Alumni Hubungan Internasional FISIP Unri dan Pemerhati Sosial, Email: anggaminanda1986@gmail.com

Editor/Sumber: Ikhlas Bakri

facebook twitter whatsapp linkedin pinteret email
polling cagub sumbar
REKOMENDASI
Selengkapnya

FOLLOW US
Redaksi Disclaimer Karir Info Iklan Logo Kontak Pedoman Media Siber