× Home Terkini Hot Topic Terpopuler Kategori Tag Berita Foto Video

Mencari Kambing Hitam: Solusi atau Masalah

Selasa, 01 September 2020
Mencari Kambing Hitam: Solusi atau Masalah
Apri Wardana Ritonga

Oleh: Apri Wardana Ritonga, S. Pd (Alumni UIN Imam Bonjol Padang)

Usaha saya bangkrut begini gara-gara kamu", "nilai saya anjlok semua karena pembelajaran daring", "saya belum yudisium bukan karena saya tak mampu, tapi karena dosen saya sibuk", "kalau bukan karena macet, saya pasti datang tepat waktu".

Kalimat di atas sering kita dengar terlontar dari lisan seseorang, mungkin juga anda pernah mengucapkannya. Dewasa ini, narasi itu seolah-olah sudah mendarah daging, sehingga orang lain menjadi yang paling bertanggungjawab ketika yang ia inginkan tidak terwujud. Kejadian ini tidak hanya berlaku pada skala anak-anak, namun orang dewasa yang sudah bisa berfikir lebih objektif tidak jarang juga menyalahkan keadaan atau orang terhadap pekerjaannya. Seperti kata pepatah, "lempar batu sembunyi tangan". Pengecut, bermental kerdil, beraninya hanya berbuat namun enggan mempertanggungjawabkan.

Kalimat sederhana namun berefek negatif bila terus dilakukan. Kenapa ? Menjadikan pemuda penggerak perubahan lemah, gampang menyerah, tidak memiliki semangat kompetitif, selalu bergantung kepada leluhurnya. Bahkan efek yang lebih dahsyat adalah pewaris peradaban negeri ini tidak memiliki jati diri dan kemandirian karena akan selalu menjadikan orang lain sebagai alasan utama kegagalan.

Hal ini berbanding terbalik ketika ia memperoleh keberuntungan. Ia beranggapan semuanya terjadi berkat jerih payah dan usahanya, karena kecerdasaan, kehebatan, tidak ada campur tangan orang lain. Membusungkan dada, angkuh dan sombong. Cukuplah Firaun, Qarun, Namrud si raja yang sombong mendapat azab dari Allah Swt., karena menafikan dzat pemberi rezeki terhadap kekuasaan dan harta yang dimiliki. Lengkapnya Allah abadikan dalam Q.S : 28 : 38-42.

Napak Tilas Sejarah

Nabi Adam As dikeluarkan dari surga karena memakan buah khuldi yang sudah dilarang oleh Alah Swt., tidak kuat dengan bujuk rayu syaithan laknatullah alaihi, membuat Ia dan Siti Hawa harus merasakan kelamnya kehidupan di dunia dan meningggalkan surga yang penuh dengan kenikmatan. Dalam Q.S : 2 : 35-36 Allah menceritakan lebih rinci kronolgis pengusiran Adam dari surga untuk memulai hidup baru dunia ini.

Kesalahan yang dilakukan Adam dan Hawa oleh keturunannya dewasa ini dijadikan olok-olok dan guyonan yang tidak berarti. "Andai Adam gak makan buah khuldi, kita gak akan merasakan susahnya hidup di dunia ini, gak akan merasakan ketidakpastian hukum, gak akan merasakan ekonomi meroket, gak akan merasakan susahnya mencari duit, pasti kita senang-senang hidup di surga". Seolah-olah menjadikan Adam adalah sumber utama kesusahan hidupnya dan menganggap Adam orang yang harus bertanggungjawab terhadap lika-liku kehidupannya yang tak pasti. Mau sampai kapan anda beranggapan demikian ? Apa jadinya negeri yang besar ini bila sumber daya manusianya berwawasan sempit ?

Lihatlah sejarah perjuangan Rasulullah yang pantang menyerah, namun selalu menyerahkan segala urusan kepada Yang Maha Perkasa. Sepuluh tahun mengedukasi penduduk Kota Mekkah dengan ajaran Islam. Di antara mereka ada yang menerima kebenaran itu, namun tidak sedikit pula yang menolak, memperolok-olok, melemparinya dengan kotoran unta dan pengikutnya dipersekusi. Beliau hijrah ke Madinah dan mendapat perlakuan yang baik dari masyarakat. Pengikutnya banyak dan persenjataannya lengkap.

Satu waktu kembali ke Mekkah bersama bala tentara dengan kekuatan super power. Orang kafir Quraisy gemetar melihat pasukan Rasulullah Saw, mereka khawatir beliau akan balas dendam karena sudah dizhalimi bahkan diusir dari kota tersebut. Namun diluar dugaan orang-orang kafir masa itu, Rasulullah Saw tampil dengan jiwa yang santun dan budi yang luhur, seraya berpidato "hari ini adalah hari kasih sayang, siapa yang masuk ke rumah Abu Sufyan maka ia akan aman". Betapa santunnya, Beliau menghargai kepemimpinan Abu Sufyan di tengah-tengah para pengikutnya, hal ini mendatangkan simpati dari pengikut Abu Sufyan sendiri untuk memeluk Islam bersama Rasulullah.

Uswatun hasanah yang terdapat dalam diri Rasulullah menjadi alasan utama bagi penentangnya di kota Mekkah untuk kemudian memeluk Islam. Sehingga penaklukan kota suci itu terjadi tanpa adanya pertumpahan darah seperti penaklukan kota dan wilayah lainnya.

Perlakuan kafir Quraisy terhadapnya tidak menjadikan Rasulullah mundur, marah dan menyerah. Bahkan tidak menjadi alasan baginya untuk terus berjuang menyampaikan kebenaran. Tanpa menyalahkan siapa-siapa namun istiqamah dalam dakwahnya. Hingga ekspansi wilayah Islam sampai kepada bumi pertiwi tercinta.

Senada dengan perjalanan Rasulullah di atas, sejarah Indonesia juga menyuguhkan kisah inspiratif bagi kita saat ini. Buya Hamka misalnya, Haji Abdul Malik Karim Amrullah nama lengkapnya itu dua tahun dibui tanpa proses pengadilan yang sah. Dituduh hendak membunuh Presiden Soekarno dan Menteri Agama Syaifuddin Zuhri. Sebuah tudingan dan vonis yang keliru dan sangat jauh dari sifat ulama santun seperti beliau.

Namun apa yang terjadi, ulama kelahiran Maninjau Sumatera Barat itu kemudian menulis tafsir Al-Quran 30 juz dengan nama "Al-Azhar". Dengan segala keterbatasannya, Mantan Ketua MUI itu mampu menyumbangkan mutiara yang tak ternilai dengan materi dari balik jeruji besi. Derita penjara yang diterima Hamka akibat politik penguasa yang terlibat perebutan tahta dalam sejarah pasca kemerdekaan itu, tidak membuat dirinya jatuh terpuruk, susah move on dan menyalahkan orang lain terhap hal ihwal yang dihadapi. Namun ia maafkan Soekarno tanpa menyimpan rasa dendam. Bahkan di tengah masyarakat yang sempat nyinyir, ia justru mengimami shalat jenazah presiden pertama itu tahun 1970.

Sikap kharismatik yang ditunjukkan Buya Hamka pantas diacungkan jempol, bak air tuba dibalas dengan air susu. Kezhaliman yang diterima lantas tidak menjadikannya lemah dan menyerah. Justru ia tampil dengan sosok yang lebih negarawan dan tanpa ragu menjunjung tinggi nilai-nilai persaudaraan. Bhinneka Tunggal Ika tidak hanya sekedar jargon bagi NKRI namun harus menjadi teladan untuk saling memperkokoh peradaban dan persaudaraan. Bukan untuk melemahkan kawan dan mencari-cari kesalahan, namun harus menjadi indikator kehidupan sosial pada masyarakat yang majemuk.

Perlakuan yang sama juga dirasakan oleh Nelson Mandela, tahun 1962 dibui selama 27 tahun karena dituduh melakukan kudeta. Namun setelah bebas, presiden Afrika Selatan itu tidak menyimpan dendam kepada rezim penguasa sedikit pun. justru Ia bawa Afrika Selatan menjadi negara yang gemilang. Tidak sedikit politikus Sayap Kanan yang mengkritik kinerjanya, Mandela dianggap sebagai teroris dan komunis. Di tengah pandangan sinis para rival politiknya, pria berkulit hitam itu mendapat ratusan penghargaan, pengakuan dunia atas sikap antikolonial dan termasuk mendapat hadiah Perdamaian Nobel tahun 1993.

Kenapa Mandela yang non Islam lebih bisa mengikuti ajaran yang dibawakan oleh Rasulullah Saw. dari pada kita yang mengaku sebagai penganut ahlu sunnah wal jamaah. Rasio berfikir yang profesional seorang Mandela, lebih mengutamakan aksi nyata daripada harus menyimpan dendam yang hanya akan mempersempit pikiran. Tidak menyalahkan orang lain terhadap keadaan hidupnya, tindakan pemerintah itu justru membuat Ia semakin tegar dan memiliki waktu lebih banyak untuk menyusun strategi dalam memajukan negeri.

Harus kita akui Indonesia sendiri memiliki warisan budaya yang tidak sehat. Tatkala PKI brontak, Soekarno lengser dari jabatan presiden, muncullah rezim yang dikenal dengan Orde Baru, masa Soekarno dijuluki Orde Lama. Soeharto memimpin dengan otoriter, orang yang tidak sepaham dengan kepemimpinannya akan disebut "ini orang Orde Lama". Tahun 1998 Soeharto dilengserkan oleh ribuan mahasiswa dan masyarakat, rezim baru pun muncul yang dikenal dengan "Reformasi" hingga saat ini. Orang atau golongan yang tidak sependapat dengan rezim di era ini di sebut "ini orang Orde Baru". Sungguh sebuah praktik sosial yang tidak sehat.

Mau sampai kapan kita begini ? Bagaimana mungkin negeri kita akan maju kalau penduduknya masih berpikiran rendah, lebih mudah menyalahkan dan mencari-cari kesalahan daripada memberikan solusi. Ayo bangkit, tinggalkan pola-pola lama, salah satu pola lama itu adalah menganggap orang lain bersalah terhadap kesalahan sendiri. Menyalahkan orang lain bukanlah sikap solutif menyelesaikan masalah, justru hanya akan mendatangkan masalah baru dalam hidupmu. (***)


Editor/Sumber: Rahmat Ilahi (Kang Rie)

facebook twitter whatsapp linkedin pinteret email
polling cagub sumbar
REKOMENDASI
Selengkapnya

FOLLOW US
Redaksi Disclaimer Karir Info Iklan Logo Kontak Pedoman Media Siber