× Home Terkini Hot Topic Terpopuler Kategori Tag Berita Foto Video

Ngeri, Bukan Amerika-China, Tapi Turki-Yunani yang Mungkin Perang Duluan

Rabu, 02 September 2020
Ngeri, Bukan Amerika-China, Tapi Turki-Yunani yang Mungkin Perang Duluan
Ilustrasi (Foto: Dok. Istimewa)

INTERNASIONAL - Meski pandemi corona mengancam dunia, di sejumlah wilayah dunia, konflik negara-negara besar tetap terjadi. Di Laut China Selatan misalnya China yang mengklaim 80% wilayah bersitegang denga sejumlah negara ASEAN dan Amerika Serikat (AS).

Namun bukan hanya kawasan itu yang tegang. Wilayah di Laut Mediterania Timur juga sama, bahkan lebih parah dari Laut China Selatan.

Lihat juga: Bikin Nyali Musuh-musuhnya Ciut, Berikut Kekuatan Militer Turki dari Roket Hingga Rudal

Inti masalahnya adalah tumpang tindih wilayah Turki dan Yunani di perairan kaya energi itu. Hasrat Turki mencari gas, berbuah peringatan dari Yunani, karena dituding dilakukan di perairan negara itu.

Turki mengirimkan kapal penelitiannya Oruc Reis sejak 10 Agustus. Penelitian kapal yang dilakukan di dekat Pulau Kreta membuat Yunani berang.

Yunani mengklaim wilayah itu adalah perairannya. Nota keberatan diajukan Yunani bahwa laporan ke Uni Eropa, tempat negara itu bergabung.

Keduanya pun melibatkan militer masing-masing. Turki menerjunkan angkatan lautnya untuk melindungi kapal penelitian dan mengadakan latihan tembak di kawasan.

Sementara Yunani dibantu dengan militer Prancis, berpatroli di wilayah yang sama. Jet tempur F-16 juga diterjunkan.

Lihat juga: Gila, Jet Tempur Turki Main Kejar-kejaran dengan F-16 Yunani di Langit Mediterania

Meski negara Eropa lain, seperti Jerman yang kini menjadi presiden Uni Eropa mencoba mendamaikan ketegangan keduanya tetap tinggi. Turki bahkan dibeking Amerika Serikat dan Italia.

Kekecewaan Turki makin dalam ke Eropa setelah pada Jumat (28/8/2020) lalu, menteri Luar Negeri Uni Eropa mengkaji daftar sanksi untuk Turki. Termasuk sanksi pada perusahaan yang melakukan observasi di zona itu.

Uni Eropa menyebut Turki melakukan pengeboran ilegal. Keputusan final soal sanksi akan diberikan 24 September nanti.

Dalam sebuah pernyataanya Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan kembali menegaskan kalau pihaknya siap perang untuk membela kepentingannya di Mediterania.

"Ketika tiba waktunya untuk berperang, kami tidak akan ragu untuk berkorban," tegas Erdogan dikutip dari AFP.

Situasi kian panas kala Senin (31/8/2020), Yunani mengirimkan kembali militer ke pulau Kastellorizo, yang berjarak 2 kilometer dari pengeboran Turki. Bahkan dalam pernyataan terbarunya, Erdogan mengatakan tak akan mentolerir aksi "pembajakan atau perampasan" yang mungkin saja dilakukan Yunani.

Lihat juga: Di Ambang Perang, Jet Tempur Turki dan Yunani Terlibat Dog Fight di Langit Mediterania

"Tidak ada yang bisa membatasi Turki, yang memiliki garis pantai terpanjang di Mediterania.. Kami bertekad untuk membela hak maritim warga kami," kata Erdogan.

Dalam laporan US Geological Survey, Laut Mediterania Timur memiliki cadangan minyak 1,7 miliar barel. Sementara gas 3,5 triliun meter kubik.

Turki bukan negara Uni Eropa. Tapi Turki dan Yunani sama-sama berada dalam aliansi NATO.

Sebelumnya kedua negara juga tegang soal pengungsi Suriah. Turki membuka perbatasannya untuk para pengungsi guna meninggalkan negaranya ke Eropa, yang membuat Yunani geram. (CNBC)

Editor/Sumber: Rahmat/cnbcindonesia.com

facebook twitter whatsapp linkedin pinteret email
polling cagub sumbar
REKOMENDASI
Selengkapnya

FOLLOW US
Redaksi Disclaimer Karir Info Iklan Logo Kontak Pedoman Media Siber